Mataram, 18 Februari 2026– Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu Pendidikan Tinggi melalui langkah strategis menuju akreditasi internasional. Melalui Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), UIN Mataram menyelenggarakan kegiatan persiapan Program Studi menuju akreditasi internasional yang bertempat di Gedung Auditurium UIN Mataram dengan menggandeng LPM UIN Malang dan Universitas Brawijaya sebagai mitra akademik.
Kegiatan ini dipandu oleh Ketua LPM UIN Mataram, Prof. Dr. H. Fahrurrozi, M.A., serta dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, mulai dari Wakil Rektor I dan II, Kepala Biro AUPK, Kepala Biro AKK, para Dekan, Wakil Direktur Pascasarjana, Wakil Dekan I, II, dan III, hingga seluruh Ketua dan Sekretaris Program Studi di lingkungan UIN Mataram.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Prof. Dr. H. Adi Padli, M.Ag., menegaskan bahwa akreditasi internasional bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan bagian dari visi besar transformasi mutu UIN Mataram. Ia menekankan pentingnya komitmen kolektif seluruh sivitas akademika dalam mewujudkan standar mutu global serta menjadikan UIN Mataram sebagai perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing internasional.
Kegiatan ini menjadi titik awal konsolidasi dan penguatan sinergi antara UIN Mataram, LPM UIN Malang, dan Universitas Brawijaya dalam mewujudkan akreditasi internasional sebagai langkah nyata transformasi kelembagaan menuju pengakuan global.
Dalam sesi pemaparan, narasumber menjelaskan secara sistematis perbedaan antara akreditasi dan sertifikasi.
Akreditasi merupakan pengakuan terhadap lembaga pendidikan atau Program Studi yang diberikan oleh badan berwenang setelah melalui proses penilaian berdasarkan kriteria mutu tertentu. Penilaian ini ditujukan kepada institusi atau penyelenggara pendidikan, bukan kepada lulusan.
Sementara itu, sertifikasi adalah pengakuan terhadap individu, produk, atau sistem yang telah memenuhi standar tertentu. Dengan demikian, akreditasi berorientasi pada mutu kelembagaan/program, sedangkan sertifikasi menitikberatkan pada pemenuhan standar oleh individu atau entitas tertentu.
Narasumber dari Universitas Brawijaya, Prof. Dr. rer. nat. Abdurrouf, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa akreditasi internasional dapat dipahami dalam dua perspektif.
Pertam a, sebagai bentuk pengakuan eksternal atas mutu perguruan tinggi.
Kedua, sebagai strategi agar institusi Pendidikan Tinggi di Indonesia mampu sejajar dengan Perguruan Tinggi luar negeri.
Menurutnya, untuk mencapai posisi tersebut, Perguruan Tinggi perlu meraih pemeringkatan atau akreditasi internasional melalui perencanaan dan strategi yang matang.
Akreditasi internasional memberikan berbagai keuntungan strategis bagi program studi dan institusi, antara lain:
Pertama, Pengakuan Global. Meningkatkan reputasi dan visibilitas program studi di tingkat internasional. Kedua, Daya Saing Lulusan. Menjamin kurikulum relevan dengan kebutuhan industri global sehingga lulusan lebih kompetitif. Ketiga, Kerja Sama Luar Negeri. Membuka peluang pertukaran mahasiswa, dosen, serta kolaborasi riset internasional. Keempat, Mobilitas Akademik. Mempermudah transfer kredit antarperguruan tinggi lintas negara. Kelima, Peningkatan Kualitas. Mendorong budaya perbaikan berkelanjutan dan penerapan standar mutu tertinggi.
Dalam menentukan lembaga akreditasi internasional, Perguruan Tinggi perlu mempertimbangkan beberapa aspek penting, seperti reputasi global lembaga, kesesuaian standar dengan karakteristik Program Studi, pengakuan oleh otoritas pendidikan, serta pendekatan evaluasi berbasis peningkatan mutu berkelanjutan.
Salah satu lembaga akreditasi internasional yang banyak menjadi rujukan adalah ACQUIN (Accreditation, Certification and Quality Assurance Institute) yang berbasis di Jerman dan memiliki pengalaman luas dalam penjaminan mutu pendidikan tinggi di berbagai negara.
Dalam proses akreditasi internasional, penyusunan Self-Assessment Report (SAR) menjadi tahapan krusial. SAR merupakan laporan evaluasi diri yang memuat analisis komprehensif mengenai visi dan misi, kurikulum, tata kelola, sumber daya manusia, penelitian, serta sistem penjaminan mutu internal. Dokumen ini menjadi dasar bagi asesor dalam melakukan penilaian awal sebelum asesmen lapangan.
Narasumber dari UIN Malang, Prof. Dr. H. Sugeng Listyo Prabowo, M.Pd., menegaskan bahwa Program Studi di UIN Mataram yang telah meraih peringkat unggul perlu meningkatkan capaian menuju akreditasi internasional.
Dari total 39 Program Studi, tidak semuanya akan diajukan. Seleksi dilakukan berdasarkan kesiapan, komitmen, serta kekuatan tim dalam mempersiapkan dokumen dan implementasi standar internasional.
Adapun tantangan yang dihadapi meliputi alokasi pembiayaan, kendala internal dan eksternal, budaya akademik dan non-akademik, regulasi, serta peningkatan kualifikasi sumber daya manusia. Narasumber lainnya, Rosihan Aslihuddin, M.Si., memberikan penguatan teknis terkait strategi penyusunan dokumen dan kesiapan administratif dalam proses akreditasi.